Berita Viral Nusantara
SOSIAL  

DARI SANGGAR KE KAMPUS: MODEL KOLABORASI PELESTARIAN BOSARA OLEH TIM DOSEN DAN SANGGAR SENI KATANGKA

 

Virantara.com.Maros-Oleh: Dr. Sri Darmawati. M, M.Pd

Tari Bosara bukan sekadar tarian penyambutan. Ia adalah bahasa tubuh orang Makassar tentang penghormatan, kerendahan hati, dan kebersamaan. Di atas piring berisi kue-kue tradisonal khas Bugis- Makassar sajian pelengkap adat. Bahasa tubuh tersimpan nilai adab yang selama ratusan tahun dijaga oleh para perempuan Makassar. Pertanyaannya sekarang: di tengah derasnya budaya pop dan kesibukan akademik, siapa yang akan memastikan Bosara tidak berhenti menjadi pajangan di museum?

Jawabannya ada di satu model sederhana tapi kuat: kolaborasi antara kampus dan sanggar. Model inilah yang saat ini dijalankan di lingkungan mahasiswa Sendratasik oleh Tim Pelaksana yang diketuai Nurachmy Sahnir, S.Pd., M.Pd, anggota Prof. Dr. Jamilah, M.Sn, Dr. Sri Darmawati. M, M.Pd bersama Pelatih Ibu Bau Salawati, S.Pd., M.Sn dan pakar tari tradisi Sulawesi Selatan sekaligus pemilik Sanggar Seni Katangka, Ibu Hj. St. Maryam, S.Pd.

Tulisan ini ingin menegaskan bahwa pelestarian tari tradisi tidak bisa ditangani sendirian. Kampus butuh sanggar. Sanggar butuh kampus. Dan mahasiswa Sendratasik adalah jembatan di tengahnya.

Bosara: Warisan yang Butuh Ruang Hidup

Selama ini kita sering mendengar istilah “pelestarian budaya”. Tapi melestarikan bukan berarti membekukan. Bosara akan mati jika hanya diajarkan lewat slide dan video YouTube. Bosara hidup ketika ada keringat di lantai latihan, ada teguran lembut saat gerak tangan kurang anggun, ada tawa saat mahasiswa salah langkah lalu bangkit lagi terutama aturan ketat yang harus sesuai dengan ragam gerak yang dipersyaratkan.

Di sinilah peran Sanggar Seni Katangka milik Ibu Hj. St. Maryam, S.Pd menjadi vital. Sanggar adalah rumah. Tempat yang tidak menuntut IPK, tapi menuntut kedisiplinan. Tempat yang tidak memberi nilai angka, tapi memberi nilai rasa. Di Katangka, mahasiswa belajar bahwa menari Bosara berarti belajar menghormat tamu, belajar kompak dalam barisan, belajar menahan ego demi keindahan bersama.

Tanpa sanggar, kampus hanya punya teori. Dan teori tanpa praktik akan kering.

Kampus: Memberi Arah, Riset, dan Panggung

Di sisi lain, sanggar saja tidak cukup. Sanggar butuh penguatan akademik agar tidak terjebak pada rutinitas. Inilah peran Tim Pelaksana dari Sendratasik: Prof. Dr. Jamilah, M.Sn, Nurachmy Sahnir, M.Pd, dan Dr. Sri Darmawati. M, M.Pd

Prof. Dr. Jamilah, M.Sn dengan wibawa keilmuannya memastikan bahwa Bosara diajarkan dengan landasan sejarah dan antropologi yang benar. Mahasiswa tidak hanya “bisa menari”, tapi paham mengapa menggunakan bosara, mengapa pandangan harus mengikuti gerakan tangan, mengapa iringan gendang punya pola tertentu.

Ibu Nurachmy membangun kurikulumnya. Ia menyusun RPS, merancang asesmen, dan memastikan Bosara bisa masuk sebagai bagian dari mata kuliah praktik, bukan kegiatan ekstrakurikuler yang bisa ditinggal kapan saja, membuka jalan ke panggung.

Lewat kolaborasi pertunjukan, seminar, dan pengabdian, ia memastikan mahasiswa punya ruang tampil. Karena tarian tanpa penonton akan kehilangan nyawanya.

Kampus memberi legitimasi. Kampus membuat Bosara naik kelas: dari kegiatan komunitas menjadi kajian ilmiah.

Di antara dua institusi besar itu, ada dua figur yang menjadi jantung: ibu Sitti Maryam, S.Pd dan Ibu Bau Salawati. M.Sn

Ibu Bau Salawati. M.Sn sebagai pelatih. Beliau bukan hanya mengajari hitungan 1-8. Beliau mengajari kesabaran. “Tanganmu jangan kaku, nak. Bayangkan kamu menyambut ibumu sendiri,” begitu kira-kira nasihatnya.

ibu Sitti Maryam, S.Pd adalah pewaris gerak. Apa yang beliau ajarkan tidak ada di buku. Ada di otot, di napas, di cara beliau menatap saat mahasiswa mulai putus asa. Model kolaborasi ini akan gagal jika tidak ada pelatih yang mau turun ke lantai dan berkeringat bersama mahasiswa. Dan Ibu Bau Salawati membantu melatih gerakan itu.

Lalu untuk siapa semua ini? Jawabnya: Mahasiswa Sendratasik.
Mereka bukan objek. Mereka subjek. Di tangan mereka, Bosara akan dibawa ke sekolah-sekolah, ke acara pernikahan, ke festival nasional, bahkan ke luar negeri.

Yang menarik, setelah mengikuti model kolaborasi ini, banyak mahasiswa berubah. Mereka yang awalnya malu karena “tari kampung” jadi bangga. Mereka mulai bertanya: “Bu, berapa jumlah isi kue di piring?” “Bu, kenapa gerak sembahnya begini?” Pertanyaan-pertanyaan itu tanda bahwa pelestarian sudah bekerja. Bukan hafalan gerak, tapi tumbuhnya kesadaran budaya.

Tentu model ini tidak mulus. Ada tantangan jadwal bentrok antara kuliah dan latihan sanggar. Ada tantangan dana untuk kostum dan properti. Ada juga tantangan stigma: “Ngapain sih belajar tari lama, mending K-Pop.”

Tapi justru di sinilah pentingnya kolaborasi. Kampus bisa menyediakan SKS dan dana hibah. Sanggar bisa menyediakan tempat dan pelatih. Dosen bisa meneliti dan mempublikasikan. Bersama, tantangan itu jadi ringan.

Ke depan, model “Dari Sanggar ke Kampus” ini harus diperluas. Tidak hanya Bosara, tapi juga tari Pakarena, Tari Pajaga, dan tradisi lisan lainnya. Kuncinya satu: jangan pisahkan akademisi dari pelaku tradisi.

Pelestarian budaya bukan tugas Dinas Kebudayaan saja. Bukan juga tugas sanggar saja. Ia adalah kerja bersama.

Hari ini kita bersyukur karena di Makassar ada Ibu Sitti Maryam, S.Pd yang membuka pintu sanggarnya. Ada Ibu Bau Salawati, M.Sn yang dengan tulus menurunkan ilmunya. Ada Prof. Jamilah, Rachmy Sahnir, M.Pd, dan Dr. Sri Darmawati yang mau menjembatani tradisi ke dalam kurikulum kampus.

Jika model kolaborasi ini terus dijaga, maka 10 tahun dari sekarang, ketika ada tamu datang ke Makassar, yang menyambut bukan hanya kata “selamat datang”, tapi juga ayunan tangan, langkah lembut, dan piring Bosara yang diangkat tinggi oleh mahasiswa Sendratasik.

Karena sejatinya, melestarikan Bosara berarti melestarikan cara kita menghormati satu sama lain. Dan itu, harus dimulai dari kampus.(HASMARIANTO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 720x90