MAROS, VN— Di tengah doa keluarga yang mengiringi dan harapan yang mengalir, sebanyak 610 jemaah calon haji asal Kabupaten Maros bersiap menapaki perjalanan paling sakral dalam hidup mereka. Pada 1 Mei 2026, mereka dijadwalkan terbang menuju Tanah Suci dalam Kloter 14, menjadi salah satu rombongan awal dari Sulawesi Selatan yang mengawali musim haji tahun ini. Minggu, 08/2/2025
Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan dari satu negeri ke negeri lain. Ia adalah perjalanan hati—langkah panjang yang telah ditunggu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, oleh sebagian besar jemaah. Sebelum keberangkatan, para jemaah akan berkumpul di Asrama Haji Sudiang, Makassar, pada 30 April 2026 untuk menjalani tahapan akhir persiapan.
Bupati Maros, Chaidir Syam, menyebut keberangkatan di kloter awal sebagai tanda kesiapan daerah sekaligus momentum penuh makna bagi masyarakat.
“Jemaah Maros berangkat di Kloter 14 tanggal 1 Mei. Sehari sebelumnya sudah masuk asrama. Ini menjadi kebanggaan sekaligus amanah yang harus kita jaga bersama,” ujarnya.
Tahun ini, kuota haji Maros mencapai 610 jemaah, meningkat hampir dua kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya. Bersama satu orang petugas pendamping, total rombongan yang berangkat berjumlah 611 orang. Mereka datang dari berbagai latar belakang, usia, dan kisah kehidupan. Jemaah tertua berusia 99 tahun, sementara yang termuda 15 tahun—sebuah potret bahwa panggilan haji melampaui batas generasi.
Namun di balik keberangkatan itu, antrean panjang masih menanti. Sekitar 11 ribu warga Maros tercatat dalam daftar tunggu haji. Meski demikian, masa tunggu yang dahulu mencapai 35 tahun kini berangsur turun menjadi sekitar 26 tahun, memberi secercah harapan bagi mereka yang masih menanti giliran.
Pemerintah daerah pun berupaya memastikan setiap jemaah berangkat dalam kondisi siap lahir dan batin. Manasik haji terintegrasi telah digelar puluhan kali sebagai bekal pemahaman ibadah, kesiapan mental, serta kekuatan fisik.
“Ibadah haji membutuhkan stamina dan ketahanan. Jaga kesehatan dan mulai latihan dari sekarang,” pesan Chaidir.
Ketika hari keberangkatan tiba, langkah-langkah para jemaah itu akan membawa lebih dari sekadar koper dan perlengkapan. Mereka membawa doa keluarga, harapan kampung halaman, serta kerinduan mendalam untuk bersujud di hadapan Ka’bah—sebuah perjalanan iman yang akan menjadi kisah abadi dalam hidup mereka.(**)




